arsitek99 kelima (mekso ganjil)

Demikianlah, seiring berjalannya waktu, anggota keluarga arsitek 99 pun semakin bertambah lagi..

Kendala dalam suatu komunitas, adalah ketika mulai ada yang merasa terpinggirkan dari komunitas, merasa menjadi minoritas, inferior...dan ketika ada yang mulai merasa seperti itu, ya otomatis terciptalah mayoritas dan minoritas, superior dan inferior dibenak yang merasa, sehingga apapun yang dari mayoritas lalu dianggap sebagai serangan ke dia.

Salah yang "dimayoritaskan" kah?Atau mungkin emang penyakit kejiwaan individunya yang udah terlalu parah ya...he..he..he... halah yo wis ben.
mikiri kui malah bikin...

hhwuahhhhh.....capekkkkk deh ^_^

Ocehan IsaIndrawan+1


Tempat itu Setapuk Besar


Suatu daerah di ujung Singkawang Utara, yang untuk ukuran orang baru di Singkawang memang tempat ini terasa amatlah jauh. Dengan sebuah system tata pemerintahan baru di wilayah Singkawang yang terwujud sebuah kota daerah yang dulunya desa ini dipaksa untuk berubah menjadi sebuah kawasan urban. Positif, tapi entah kenapa banyak masyarakat yang agak menentang sebuah perubahan, harusnya jikalau kita menyebut perubahan yang lebih baik adalah perubahan ke tingkat yang lebih tinggi.


Di satu sisi masyarakat di Setapuk Besar ini sudah condong berorientasi pada kegilaan orang-orang kota, dengan berani mencoba untuk bergerak untuk menuntut pelayanan yang maksimal. Dilema, ketika orang yang “baru” ingin ikut terjun dalam sebuah kancah pembangunan kota Singkawang, malah terjadi banyak sekali pertentangan-pertentangan ide, baik itu yang memang benar-benar ide yang sama-sama positif maupun ide yang malah menjerumuskan kembali masyarakat ke dalam jurang yang pernah mereka masuki dimasa yang lalu.


Perubahan sistem pemerintahan dari desa menjadi kelurahan, ternyata membawa dampak sebuah “shock therapy” bagi para pemimpin-pemimpin masa lalu. Mereka seolah kehilangan power mereka untuk memberikan kontribusi pemikirannya kepada daerahnya. Karena mereka kebanyakan tidak memakai baju yang sama dengan sistem yang baru ini. Negatif, apakah harus, ketika kita ingin membentuk sebuah perubahan kita harus berada di atas. Goncangan-goncangan dari bawahpun mungkin akan lebih terasa ketika berada dalam tatanan pelaksanaan bukan hanya dalam tatanan konsep saja.


Kembali kepada kata Setapuk Besar, sesuai dengan namanya saja harusnya daerah ini mempunyai wilayah yang sangat luas. Dan memang terbukti ketika masuk ke dalamnya, daerah ini memang sangatlah luas, 28 buah blok kemasyarakatan ada di sini. Sebagai sebuah masyarakat yang dulunya berbentuk desa, pada umumnya bisa ditebak sektor yang digarap oleh mereka. Pertanian, yah memang sebagian besar mereka mengandalkan tanah tuhan untuk menghidupi organisasi kecilnya. Komoditi yang selalu disebut-sebut sebagai asal Tebas, ternyata sangat banyak juga berada di daerah ini, tetapi lucunya sesampainya di pasar tetap saja tidak berani menunjukkan bahwa tidak perlu jauh-jauh untuk mencari jeruk, cukup di Setapuk jeruk yang rasanya manis juga ada. Tapi masih untung, ternyata rambutan di Singkawang masih dilambangkan dengan Setapuk. Kenapa tidak berani menunjukkan “icon” jati diri sebuah barang, jeruk di pontianak selalu dibilang berasal dari Tebas, jeruk di luar Kalimantan Barat selalu di bilang jeruk Pontianak, padahal mana ada di kota Pontianak kebun jeruk.


Perlu kita anggap ini sebagai sebuah pembodohan diri, kemana keberanian kita untuk berinovasi, tapi memang bangsa Indonesia adalah pencontoh yang ulung. Jikalau mau mencari peniru unggul disinilah tempatnya. Mulai dari peniruan produk, sistem sampai pada tatanan konsep dan ide. Tulisan Gede Prama pernah meninju mukaku karena ternyata sama saja, inovasiku dalam dunia yang digeluti olehku banyak sekali pada akhirnya dibelokkan oleh kekuatan-kekuatan pengambil keputusan. Idealisme misi dan icon diriku menjadi tersimpan dalam lemari besi oleh karena melayani para pelanggan yang terlalu kental akan “maunya saya begini”, dan ketika aku memunculkan sebuah ide baru jawabannya “kok begitu” karena yang namanya ide baru ya memang tidak umum, kalo umum itu namanya ide usang dan kembalilah membantu mempertahankan citra bangsa ini.


Sebagian lagi memanfaatkan posisi wilayah yang ternyata mencium bibir pantai, pelestari-pelestari kisah nenek moyang ini tetap menjaga warisan budaya pelaut ulung. Walaupun masih kalah jauh dari para nelayan-nelayan Thailand yang ternyata mampu berlayar untuk menangkap hasil laut. Mungkin karena itulah bangsa kita ini disebut sebagai pelaut ulung, dengan teknologi yang sangat tepat guna, yang ketika terkena angin kencang sedikit lebih baik tidur di rumah, sampai dengan ahli nujum yang bisa memprediksikan dimana para penghuni-penghuni laut ini berkumpul.


Bukan salah siapa-siapa, memang begitulah Indonesia dengan ke-Bhineka Tunggal Ika-nya. Tuntutan-tuntutan, dan hanya tuntutan kepedulian dari pemimpin selalu digembar-gemborkan mereka, tolong peduli, tolong bantu, hal-hal seperti ini yang mematikan inovasi untuk menciptakan sebuah perubahan yang lebih baik. Anak mami, memang hal ini tidak bisa terlepas dari diri semua orang termasuk yang menulis tulisan aneh ini, tapi apakah salah kalau kita mati-matian menciptakan hal yang kecil saja, tetapi banyak, untuk menjadi cikal bakal perubahan. Aku juga sempat marah dalam diri ketika dikritik seorang teman karena terlalu banyak mempelajari software, “kamu ini hangat-hangat tahi ayam, tidak ada yang dikonsentrasikan semua mau dipelajari tapi tidak ada yang sampai maksimal”, tapi jawaban ketus dalam diri “ya biarin aja memang suka mempelajari hal-hal yang baru kok, karena misinya jika sudah tau sedikitkan, jadinya tidak mudah dibodoh-bodohi orang”. Itu kalau diriku, jikalau anda masih mengikuti aku ataupun temanku, sama saja anda mematikan jiwa inovasi anda. Hal yang lumayan dari bangsa ini yaitu akhirnya salah satu “ahli nujum” bangsa ini bisa hidup di Jerman dengan indahnya, sempat merasa kesal juga dengan beliau kenapa lari dari lingkungan orang-orang yang “kepintaran” ini, kenapa tidak membangunkan orang-orang seperti diriku di kampung halaman yang dalam sehari semalam isinya hanya tidur, tidur dan tidur lagi.


Kembali kepada tanah Setapuk Besar, flash back sedikit ketika pertama menginjakkan kaki ke wilayah ini, sedikit terkejut saya ketika memasuki kantor kelurahannya saja. Penampakan luarnya sih lumayan tetapi ketika melewati pintu utama, yang menjadi pertanyaan saya kenapa orang-orang sebelum diriku bisa bekerja dengan baik, dengan kondisi yang sangat-sangat memprihatinkan. Apakah memang begini citra yang harus muncul pada bangunan-bangunan pemerintahan ? Apakah memang sengaja dibentuk untuk menutupi mata masyarakat agar tidak berprasangka buruk terhadap pemerintahan ? Kenapa sih tidak ada usaha perawatan yang lebih baik ? Kenapa barang bagus yang diciptakan hanya bertahan tahun hitungan jempol ?


Aku tidak menjebak anda dalam idealisme institusi, tetapi lebih kepada memunculkan jiwa seni dan jiwa keindahan untuk kenyamanan psikologis semua orang. Karena mayoritas di Setapuk Besar adalah orang beragama, bukankah di dalam ajaran agama diajarkan tentang rasa keindahan dan kebersihan. Kepedulian yang digugah disini, jikalau berfikiran “ah biarin aja, biar cepat diganti dengan yang baru, karena kalau belum rusak tidak akan diperhatikan oleh para pemimpin”. Inilah dilema yang terjadi pada property milik pemerintahan, tidak ada rasa tanggung jawab karena tidak adanya sangsi atau aturan atau imbas balik yang bisa menyadarkan pribadi-pribadi ini. Positif juga metode kantor-kantor swasta yang berlomba-lomba membuat tempat usaha menjadi lebih representatif, tapi sebelumnya yang menjadi pertanyaan dalam diri adalah, Apakah kita orang pemerintahan mau begitu juga ? Karena bagus tidaknya tempat kerja toh gaji ya begitu-begitu juga. Kalau anda berpendapat begini, dirasa perlu pada penerimaan pegawai selanjutnya dimasukkan pada point yang pertama item “bersedia ditempatkan dimana saja”.


Daerah ini masih sangat kaya dengan hasil alamnya, bahan-bahan yang murah malah bahkan mungkin tidak perlu membayar terdapat di sini. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah manusia masih menganggap bahan yang bagus itu adalah bahan yang mahal, yang umum dipakai orang, yang gampang didapati di pasaran ? Kenapa tidak mau sedikit menyiasati dari kesulitan materil untuk mendapatkan bahan-bahan seperti pertanyaan sebelumnya, dengan memandang, apa sih yang kita punya ?


Kemauan, mungkin hanya kemauan untuk berkreasi saja dan bisa jadi mungkin sedikit izin, dan kembali izin untuk bergerak dari yang kuasa yang menentukan. Apakah perasaan tabu untuk berkreasi tanpa izin yang kuasa itu akan terus kita bina dalam sanubari kita ? Dan mungkin memang harusnya yang kuasa itu haruslah juga yang maha melihat lagi maha mendengar, maha pemurah dan maha penyayang, maha adil dan maha bijaksana, dan pada akhirnya maha dari semua maha.

arsitek 99 ketiga





seneng-seneng terussssssssssssssssssssssssss

arsitek 99 kedua

to




arsitek 99 pertama

Mungkin inilah gambaran arsitek 99 kita yang penuh dengan warna, dan selalu rame setiap saat atau boleh dikatakan senang meramaikan diri, senang dengan perbedaan dan senang menjadi berbeda namun tidak untuk membedakan.

Pada dasarnya arsitek 99 kita penuh dengan orang-orang dengan kemampuan pribadi yang kuat dan unik, namun ketika arsitek 99 berkumpul maka hilanglah semua jabatan dan kedudukan, semua sama rata.




Bunga Kamboja-ku Part II


Ini juga gambarnya...bagus khan?,...hehehe(narsis banget yak?)

Bunga Kamboja-ku







Di depan rumahku, bunga kambojanya lagi indah banget..sampai-2 setiap pagi aku sering duduk berlama-lama memandanginya (trus lupa mandi n telat berangkat ke kampus)...saking seneng sama warnanya, bunga itu tak poto, hehehe...n tak bagikan keindahannya lewat blog ini..selamat menikmati deh...

innocent

suatu pagi selesai kumandang takbir...



Yang sangat ku suka dari anak-anak, adalah ekspresi mereka yang jujur dan masih bebas dari tendensi...
seringkali aku merasa kehilangan rasa itu...
kejujuran dan kebebasan bersikap...

Pohon Kehidupan

tentang yang semakin hilang dari lingkungan kita....

Setiap pohon besar mampu 4590 kg oksigen / tahun. Seseorang membutuhkan oksigen 2.9 kg / hari, atau 1058.5 / tahun, jadi jika tiap rumah dihuni 4 orang, dibutuhkan 4234 kg oksigen / tahun.

Dengan adanya satu pohon besar di pekarangan rumah, kebutuhan oksigen tercukupi, dan udara di rumah terasa segar sepanjang tahun. Setiap pohon yang ditanam mempunyai kapasitas mendinginkan udara sama dengan rata-rata 5 unit AC yang dioperasikan selama 20 jam perhari.

Ruang terbuka hijau seharusnya 30% dari luas wilayah pemukiman, setiap hektar hutan dapat menetralisir CO2 yang diakibatkan oleh 20 kendaraan bermotor. Setiap hektar hutan memiliki potensi untuk mengikat 1000kg debu pertahun yang diakibatkan oleh polusi udara (debu, asap, aerosol, dsb) dan mengolahnya menjadi humus.

(Frick, Heinz / Mulyani, Tri Hesti: Arsitektur Ekologis)

Arsitek Kita Bareng-2

1 Minggu yang lalu kampus ada gawe...biasalah masalah pengajuan akreditasi biar bisa dipertahankan tetap AAAA. Beberapa temen tak undang ke kampus untuk datang dalam rangka suport dari alumni sebagai bagian dari keluarga arsitektur UII. Alhamdulillah beberapa bisa menyempatkan waktunya untuk datang diantara sekian banyak pekerjaan mereka (nuwun yah buat Pamor, Ahmad,Si Mbah n Arya).
Sampai hari ini belum ada keputusan resmi tentang status kita apakah masih di Peringkat Akreditasi A atau tidak. Mohon doanya buat temen-2 yah semoga prestasinya dalam Nilai A tetap bisa dipertahankan.

evolution




Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Curabitur non tellus. Ut tincidunt nisl et metus. Fusce non velit at lectus viverra elementum. Donec blandit leo a nisl. Maecenas suscipit viverra augue. Fusce rutrum massa sed risus. Quisque pellentesque, nunc eu eleifend fermentum, lectus purus eleifend ipsum, vitae tincidunt nunc est id orci. Vivamus volutpat purus eget felis. Morbi in eros. Vestibulum a nibh. Cras arcu. Curabitur tempus libero vel dui. Etiam placerat porttitor dui. Ut varius aliquam sem. Etiam sapien turpis, ultricies sit amet, egestas vel, ultrices in, leo. Duis nulla massa, viverra vel, hendrerit non, pulvinar ac, mauris. Phasellus enim metus, pretium at, malesuada ac, accumsan quis, lacus. Duis metus.

Aliquam nec velit a elit ornare mollis. Mauris enim ipsum, mattis sed, ornare sit amet, egestas sed, elit. Nunc ultrices purus non eros. Vivamus a lectus eu tellus eleifend cursus. Phasellus vitae nulla. Donec auctor ligula a magna. Sed semper, neque at faucibus blandit, lectus odio vulputate purus, sit amet suscipit nisl elit nec eros. Nulla lacus nunc, iaculis quis, fringilla quis, accumsan in, felis. Nunc egestas metus et dolor. Suspendisse potenti. Nunc porttitor dolor non enim. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Aenean erat est, porta id, blandit nec, fermentum quis, odio. Ut eget turpis non neque aliquam commodo. Donec at augue quis arcu placerat faucibus. Fusce at erat. Fusce turpis. Pellentesque nec quam.

Morbi et urna. Vivamus molestie. Nulla condimentum posuere pede. Etiam velit odio, pellentesque non, viverra eget, tristique sit amet, erat. Pellentesque interdum nisi sit amet erat. In ligula elit, sodales vitae, cursus non, venenatis vel, nibh. Aenean vestibulum fringilla tellus. Ut elementum, dui vitae commodo gravida, dolor orci lacinia nisi, in vulputate pede augue feugiat sapien. Maecenas sed tortor eget lorem porta ultricies. Maecenas dignissim massa eu massa. Etiam posuere quam sed purus. Fusce ut enim. Cras in arcu. Ut mollis feugiat pede. Nulla facilisi. Mauris ac neque a felis fringilla adipiscing.

Integer lacinia. Sed odio. Nunc nunc magna, cursus ac, accumsan in, lacinia non, ligula. Donec eu pede a neque ullamcorper posuere. Integer tincidunt, sem vel pretium condimentum, elit odio volutpat velit, eget fringilla ante arcu eget odio. Sed pharetra ante non sem. Nullam arcu libero, rutrum non, dictum ut, consequat vitae, dui. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Phasellus facilisis risus vitae velit. Suspendisse ac libero. Aliquam nisl odio, mattis quis, tincidunt eu, iaculis a, dolor. Aliquam erat volutpat. Maecenas enim dolor, feugiat ut, pharetra nec, aliquam at, nunc. Vestibulum gravida est ac sapien. Nulla consequat sollicitudin lorem.

Pellentesque eu lacus. Morbi porttitor mollis arcu. Nulla viverra, purus sed dignissim pretium, velit magna gravida lacus, a pulvinar elit est et velit. Nulla venenatis, diam accumsan rhoncus fermentum, nibh purus tincidunt justo, in semper tellus dolor pretium libero. Vestibulum et nibh non magna aliquam fringilla. Etiam mauris justo, tempor ut, gravida pharetra, porta id, purus. Fusce aliquet. Maecenas odio nulla, ultrices et, egestas a, feugiat quis, eros. Sed elit. Etiam neque odio, elementum at, suscipit vitae, tincidunt ac, arcu. Sed nec mauris. Duis tincidunt, neque sit amet condimentum convallis, elit arcu adipiscing diam, eget bibendum nibh eros sit amet eros. Phasellus euismod tempor felis. Pellentesque mi turpis, accumsan eget, commodo eget, consectetuer in, enim.

tes dulu ya......

maturnuwun atas undangannya dab, moga2 aja aku bisa ikutan posting informasi, aku yo ra mudeng blogger2an je....maklum katrok....hehehehehe

test lagi

tes

lumayanlah

akhirnya.....
tapi karena kayaknya mataku semakin berat untuk melototin monitor untuk nyari alamat email kalian, maka untuk sementara ini belum semua temen-temen arsitek 99 yang ter-undang sebagai penulis di blog ini, mohon sabar dan bagi yang belum terundang serta ingin ikut serta corat-coret di blog ini, mohon hubungi aku ya. Bagi yang udah diundang jangan malu-malu untuk segera berceloteh dan menempatkan apapun yang bisa dipertanggungjawabkan di blog ini.

untuk pengembangan blog yang berikutnya....sabaaaaar....masih dalam proses belajar, ternyata kudu sinau html sik je...atau...sekali lagi ada yang tau gimana cara yang lebih enak untuk melengkapi fasilitas di blog ini????

terimakasih, tenkyu maturnuwun.

masih dibingungkan

tadinya sih aku pengin temen-temen atau siapapun bisa langsung upload foto, teks, video dan sebagainya di blog ini, cuma aku masih bingung pie carane???

ada yang bisa bantu?

sori masih apa adanya






he..he..he...

sori temen2, masih apa adanya, belum ada apa-apa.

soalnya baru bikin dan masih belum aku kasih foto apa-apa

foto arsitek 99 lupa gak dibawa

coba deh tak kasih beberapa karya dulu.
oh ya, aku juga masih belum tau cara-caranya nih, masih baru sih, gimana pietcore, ketoke kowe lebih pengalaman nge-blog..

preview

halo temen-temen....
test dulu nih.
aku bikin blog ini biar sarana komunikasi, informasi dan publikasi bagi temen-temen arsitek 99 semakin lengkap.
Di blog ini temen-temen bisa kirimin karya-karya kalian, komentar kalian, dan sebagainya. Karya kalian yang mo dikirimin bebas, gak harus berkaitan dengan arsitektur, bisa tulisan, foto dan sebagainya...Nah nantinya karya-karya kalian akan diberi nilai oleh temen-temen yang lain, sehingga akan ada 9 terbaik menurut temen-temen.
Selain itu, siapa tau bisa buat menarik dan mencari sponsor acara reuni kita, kalau bisa sih reuni kita besok tu gratis.

gitu dulu
thanks